Minggu, 07 September 2008

SHALAT YANG KHUSYU

Seorang murid bertanya kepada guru agamanya, atau dilain tempat, salah seorang hadirin dari sebuah ceramah agama mangajukan pertanyaan yang kita tahu telah sering ditanyakan (FAQ) kepada ustad pembicara: bagaimana caranya agar kita bisa melakukan setiap shalat dengan khusyu. Jawabannya tentu seperti biasa. Banyak ke hal hal teknis :Konsentrasi pikiran. Konsentrasi hati . Konsentrasi kepada niat.Persiapan yang baik.Detail detail pelaksanaan shalat yang harus disempurnakan. Jawaban-jawaban ini semua bisa dimengerti, tetapi seperti yang bisa kita lihat, sulit dilaksanakan. Tetapi semuanya lupa bertanya apa arti harafiah dari khusyu itu. Kata itu telah diadopsi sedemikian rupa ke dalam bahasa Indonesia sehingga seolah-olah sudah tidak perlu dicari akar kata nya lagi. Tetapi benarkah kita sudah menangkap arti sebenarnya? Secara kebetulan saya menangkap arti kata sebenarnya langsung dari AlQur’an lewat terjemahan kedalam bahasa Inggris . Arti khusyu adalah Rendah hati atau menundukan hati (humble). Ternyata shalat yang khusyu adalah shalat dengan merendahkan hati tentunya dihadapan Allah. Dengan itu terjawablah pertanyaan seorang penanya tadi. “Alam ya’ni lil-lazina amanu antakhsya(bentuk kata kerja dari kata khusyu)lil zikrillahi wa ma nazala minal haqqi....”,: “Belumkah datang waktunya bagi orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan (tunduk hati) pada kebenaran yang telah diturunkan.....?“ surat 57: Al Hadid, ayat 16. Terjemahan bahasa Inggrisnya oleh Maulana Muhammad Ali adalah: "Has not the time yet come for the believer that they should be humble for the rememberance of Allah and the Truth that is revealed........?" Shalat khusyu jadinya sesuatu yang bisa mudah namun bisa juga sulit dilakukan. Mudah jika kita memang sudah terlatih atau bahkan sudah jadi jalan hidup kita untuk selalu berendah hati. Sebaliknya shalat khusyu bisa menjadi sesuatu yang sulit dilakukan bila rendah hati adalah suatu yang jauh dari kesadaran kita. Jadi semuanya bukan soal konsentrasi atau mengendalikan pikiran kita pada saat kita mengerjakan shalat, yang pada umumnya diakui sangat sulit dilakukan. Rendah hati adalah lawan dari takabur. Soal takabur inilah yang menjadi pelajaran yang diceritakan dari adegan pertama dari AlQur’an. Takabur bisa kita anggap sebagai pelajaran bab pertama (first lesson)dari Al-Qur’an. Ingat pada surat AlBaqarah ayat 33-35 ketika Allah mengumpulkan para malaikat untuk memperkenalkan ciptaanya yang baru yaitu manusia. Diperintahkannya semuannya untuk bersujud kepada manusia. Walaupun sempat protes semua malaikat sujud ke manusia kecuali iblis (jadi iblis sebenarnya malaikat juga). Iblis menolak dengan ketakaburannya. Ia menganggap dirinya lebih baik dari mahluk baru itu. Ia diciptakan dari cahaya api sedang manusia dari debu, mengapa pula dia harus sujud kepada manusia? Dengan ketakaburannya itu dia menolak perintah Tuhannya. Hal itu membangkitkan kutukan abadi Allah baginya. Dari sinilah kita bisa belajar perlunya bersikap selalu rendah hati. Ketakaburan iblis mengakibatkan daya pandangnya tertutup. Tidak bisa melihat sesuatu dengan benar. Sudah dikatakan oleh Allah penciptanya, saat memperkenalkan manusia bahwa dia lebih baik dari kalian(para malaikat itu). Dan ternyata sekarang bisa kita lihat hasil-hasil karya manusia di bumi ini, sementara iblis yang merasa lebih baik,sejauh ini tidak menghasilkan apa-apa. Manusia memang, sebagaimana ciptaan lain, punya kecenderungan untuk tinggi hati. Masalahnya apakah bisa kita memetik “pelajaran bab pertama” diatas dan menghanguskan sifat takabur itu. Kesimpulannya adalah kita tak akan bisa shalat dengan khusyu apabila kerendahan hati tak mendominasi hati kita. Kita bahkan shalat dengan rasa bangga meskipun kita menunjukan ketundukan kita kepada Allah dengan shalat kita. Kita shalat dengan anggapan cukup badan kita saja yang menghadap maha pencipta sementara pikiran dan hati kita boleh ke-mana mana. Kita mencemoohkan orang yang tidak shalat. Kita memandang sebelah mata orang orang yang shalat dengan gerakan-gerakan yang terlalu cepat. Kita diam-diam melecehkan orang yang shalatnya dibaris paling belakang sementara kita ada dibaris pertama karena kita hadir di mesjid di awal-awal. Ada juga yang hanya ingin berada di shaf paling depan meskipun datang belakangan. Sebagaimana syirik, takabur juga bermanifestasi dalam berbagai bentuk dan ukuran. Ada yang sekedar mengganggu, ada yang merusak, tapi ada yang mampu menghancurkan iman kita, seperti dalam kasus pembangkangan iblis tadi. Namun awas,semuanya bagaikan api, yang besar jelas manghanguskan tapi yang kecilpun dalam sekejap bisa menjadi besar. Kalau ketakaburan kita umpamakan sebagai gravitasi bumi yang cenderung membuat manusia jatuh dimata Allah, maka kita secara simbolik memuji sifat burung yang dari waktu kewaktu menentang keberadaan gravitasi dengan sayapnya sehingga dia bisa terbang cepat, tinggi dan jauh. Kita sering mendengar burung terbang ribuan kilometer untuk menghindari musim dingin dan mengejar musim panas. Burung dipakai sebagai lambang banyak negara.Kebalikannya ialah binatang melata yang “menyerah” pada gravitasi. Kecepatannya terbatas, jangkauan tidak begitu jauh, banyak menemui rintangan bahkan gerakannya terbatas dengan segudang halangan di bumi. Binatang melata meskipun tetap ciptaan yang mangagumkan, sering dicemoohkan dan dijadikan lambang kerendahan. Pertanyaannya sekarang, bagaimana kita bisa "khusyu" dengan sesama kalau kita tak bisa khusyu dihadapan Pencipta kita yang Maha Kuasa? Apakah shalat kita memang pencerminan keadaan hati kita sehari-hari?Kapan datangnya ke khusyu-an kita? Lalu kita tetap saja shalat dengan tidak khusyu atau tidak dengan khusyu. Astagfirullah!Masya Allah! Saptono 16 Des 2004.

Tidak ada komentar: